25 Persen di Bawah Standar, GCG Emiten RI Perlu Ditingkatkan

JawaPos.com – Prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance(GCG) perusahaan publik (emiten) di Indonesia perlu ditingkatkan. Sebanyak 25 persen dari total 200 emiten yang dinilai masih di bawah standar minimum.

Sebanyak 200 emiten dinilai itu terbagi dua kategori. Sebanyak 100 emiten di antaranya masuk kategori emiten dengan nilai kapitalisasi pasar besar (big cap) dan 100 emiten lainnya merupakan medium cap.

Penilaian dilakukan Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) selama enam bulan dan hasilnya akan diumumkan pada 10 Desember 2018. Riset sudah dilakukan sejak enam bulan lalu.

Direktur Eksekutif IICD Vita Diani Satiadhi mengungkapkan biasanya penilaian GCG emiten dengan mengikuti standard Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) itu dilakukan hanya kepada emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar.

”Tapi tahun ini kami inisiatif untuk melibatkan mid cap (emiten dengan nilai kapitalisasi pasar menengah) supaya terjadi pemerataan. Kasihan kalau hanya big cap terus. Supaya literasi juga semakin dalam,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (3/12).

Hasilnya, sekitar 25 persen emiten masih di bawah standar nilai minimum yaitu sebesar 66 poin. Nilai minimum tersebut merupakan asumsi tercapainya minimal satu poin pada setiap item penilaian dari praktik GCG.

Secara rinci, para emiten dengan performa tata kelola kurang mumpuni itu sekitar 20 emiten di antaranya dari kelompok big cap dan sekitar 30 emiten dari kelompok mid cap. ”Saya kira ini perlu menjadi perhatian semua pihak dan menjadi bahan review bagi regulator terutama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk mendorong para emiten tentang pentingnya penerapan GCG,” paparnya.

Anggota Dewan Pembina IICD, James Simanjuntak, mengungkapkan seluruh standard dan poin penilaian GCG penting untuk dijalankan emiten. Terlebih praktik yang sama juga dilakukan perusahaan di Negara lain dan memertimbangkan kepentingan banyak pihak termasuk investor.

Study empiris, menurutnya, membuktikan praktik GCG merupakan langkah pencegahan (preventif) atas berbagai risiko pada perusahaan.

”Maka secara empiris juga kecenderungannya, perusahaan dengan GCG yang tinggi berimbas pada tingginya nilai kapitalisasi pasar. Artinya, praktik yang baik itu diapresiasi oleh investor,” James menuturkan.

Meski angka perusahaan yang tata kelolanya masih di bawah standar relatif tinggi, James tetap mengapresiasi terus tumbuhnya angka rata-rata praktik GCG dilakukan emiten di Indonesia.

Penilaian pada 2018 dari hasil kinerja 2017 menghasilkan angka rata-rata sebesar 67,77 poin. Naik dibandingkan 67,51 poin pada tahun lalu dan 63,49 poin pada tahun sebelumnya lagi.

James mengungkapkan nilai tertinggi diraih salah satu emiten pada penilaian kali ini mencapai angka 109,9 poin. Diraih salah satu perusahaan kategori big cap. Sebaliknya nilai terendah meraih skor 30,9 poin.

IICD melakukan penilaian GCG emiten sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing emiten. IICD ditunjuk OJK sebagai Domestic Ranking Body (DRB) untuk melakukan penilaian perusahaan-perusahaan terbuka di Indonesia berdasarkan pendekatan Asean Corporate Governance Scorecard sejak 2015.

(srs/JPC)