Transaksi Valas Dan Sentimen Global Bisa Bikin Rupiah Makin Perkasa

JawaPos.com – Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus terjadi dalam beberapa hari belakangan. Rupiah menguat hingga di bawah Rp 15.000 per dollar AS. Hal ini terjadi karena adanya kepastian ekonomi yang tumbuh akibat transaksi valas dan bergesernya sentimen global terhadap Indonesia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Azami Ilman mengatakan, Bank Indonesia yang beberapa waktu lalu baru menerbitkan produk derivatif NDF (Non-Deliverables Forward) yang berdampak positif.

Penerbitan produk derivatif NDF mendorong kepastian transaksi mata uang valas dengan kontrak jangka tertentu dan nilai tukar yang ditentukan di awal sehingga mendorong tumbuhnya kepastian ekonomi di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Ilman menambahkan, dari sisi eksternal, rencana dilakukannya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan China berhasil menumbuhkan sentimen positif pada investor untuk kembali melakukan penanaman modal di negara-negara mitra dagang China.

Adanya perang dagang yang cukup tegang pada beberapa bulan yang lalu mendorong investor untuk melakukan pertimbangan untuk menanamkan modalnya di China dan juga negara mitra dagangnya.

“Hal ini, selain didukung oleh peningkatan bunga Bank Sentral Amerika Serikat, juga karena estimasi analisis dampak yang akan dirasakan China dari pengenaan tarif dagang oleh pemerintah Amerika Serikat yang dikhawatirkan akan berpengaruh ke negara mitra dagangnya,” ujarnya, Rabu (7/11).

Pemerintah dapat menjaga momen ini dengan terus mempertahankan performa positif di pasar NDF dan juga menjaga kondisi dalam negeri yang kondusif baik dari segi ekonomi maupun politik. Pemerintah harus bisa memastikan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri dalam terus stabil sehingga tidak memunculkan keraguan bagi investor untuk menanamkan modalnya.

Dampak langsung dari perang dagang kepada Indonesia lebih banyak dirasakan di awal. Hal ini berdampak pada penurunan ekspor bahan input ke China karena menurunnya kemampuan perusahaan di China untuk mengekspor ke Amerika Serikat. Namun, hal ini tidak perlu dikhawatirkan klau China sudah menemukan pasar alternatif pengganti Amerika Serikat, seperti Uni Eropa dan Asia Tenggara.

“Selain itu, adanya perang dagang memperparah ketidakpastian ekonomi, sehingga berimbas pada menurunnya ketertarikan investor dalam menanamkan modal di negara-negara dengan resiko lebih tinggi, seperti di negara emerging countries,” pungkasnya.

(uji/JPC)