BRI Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga Kredit Bulan Depan

JawaPos.com – Kenaikan suku bunga acuan 7-days repo rate Bank Indonesia (BI) sebesar 150 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen menggerus pendapatan bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pasalnya, hingga saat ini, bank pelat merah yang fokus di segmen UMKM itu belum juga melakukan penyesuaian di suku bunga kreditnya.

“Belum menaikkan (suku bunga kredit). Makanya, NIM-nya drop,” kata Direktur Utama BRI Suprajarto, di Bontang, Kalimantan Timur, Minggu malam (28/10).

Informasi saja, BRI menjadi salah satu bank besar yang mengalami penurunan NIM terbesar. NIM BRI pada kuartal III 2018 tercatat sebesar 7,61 persen atau turun 40 bps dibanding kuartal IIII 2017 atau year on year (YoY).

Padahal, lanjut Suprajarto, BRI telah menyesuaikan suku bunga deposito mereka. Maka dari itu, emiten bursa dengan kode BBRI itupun mengisyaratkan kenaikan suku bunga kredit bulan depan.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, bulan depan, November harus (naik),” katanya.

Namun Suprajarto memastikan, perseroan kemungkinan hanya akan mengerek suku bunga kredit sebesar 50 bps. “Itupun di UKM saya sudah teriak,” imbuh Suprajarto.

Sementara itu, mengenai kemungkinan kembali naiknya suku bunga acuan 7-days repo rate BI tahun depan, Suprajarto mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan untuk melakukan penyesuaian lagi.

“Kalau bunga pinjaman naik lagi, saya khawatir muncul problem baru di NPL,” katanya.

Sebagai informasi, hingga kuartal III 2018 BRI mencetak laba bersih sebesar Rp23,5 triliun atau tumbuh 14,6 persen YoY yang sebesar Rp 20,5 triliun. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan, capaian tersebut disokong penyaluran kredit BRI yang tumbuh di atas rata-rata industri perbankan di Indonesia.

“Hingga akhir September, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 808,9 triliun atau naik 16,5 persen YoY yang sebesar Rp 694,2 triliun,” katanya, Rabu (24/10).

Penyaluran kredit ke segmen UMKM tetap menjadi porsi terbesar, yakni sekitar 76,9 persen dari total kredit yang disalurkan, atau senilai Rp 621,8 triliun. Penyaluran kredit ke segmen UMKM itu tumbuh 16,5 persen YoY.

Namun, meski tumbuh cukup besar, perseroan mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang tercatat hanya 2,5 persen, lebih rendah dari rata-rata industri yang ada di level 2,7 persen.

(est/JPC)